Link

Berikut ini adalah beberapa website hasil privat yang saya berikan pada tiap pelatihan pembuatan website. Silakan kunjungi saja link berikut ini.

HOME SCHOOLING KAK SETO

MENWA JAWA TENGAH

SEPUTAR INFORMASI DAN PENGETAHUAN

RSS Feed

RUMAH KARDUS

RUMAH KARDUS

Bagian 1

 

Disebuah rumah kecil yang terbuat dari beberapa kardus bekas, tumpukan sampah pastik terkumpul di samping kanan dan kiri rumah itu. Duduk sesosok pemuda dengan bajunya yang kumal dan sebuah caping yang sudah rusak menghiasi kepalanya.

Joni      : huh panas sekali hari ini ( menghapus keringat di dahinnya)

               Jakarta…, kota metropolitan dengan berbagai wajah kehidupan yang terus saja berganti dan bertambah setiap harinya. Polusi pun semakin menyumbat hidung pesek penduduk Indonesia. Namun demi sesuap nasi tetap saja orang-orang pergi merantau ke Jakarta. Tak tahu apa yang mereka pikirkan apa hanya sekedar sesuap nasi ataukah ingin mencari kekayaan yang melimpah dengan mengabaikan kesehatan mereka sendiri. Ya beruntung bagi orang-orang yang berpendidikan dan punya relasi pasti mereka tak sia-sia cari duit di Jakarta. Tapi bagi orang-orang yang serba kekurangan dan tak punya modal pendidikan dan juga relasi pasti mereka hidup serba pas-pasan. Hidup di pinggir-pinggir aliran sungai dibawah jembatan dekat rel kereta api, belum lagi saat trantib merazia bangunan-bangunan ilegal. Waa…h lengkap sudah penderitaan.

               He…he… he…he… tapi kenapa juga aku pergi ke Jakarta Ya…? (tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya)

Karno  : (mendekati Joni) Joni…, Joni…! Sudah berapa tahun kamu ini hidup di Jakarta. Gayamu itu loh lagaknya seperti orang yang peduli dengan nasib para perantau di Jakarta ini (duduk disamping Joni)

Joni      : (memandang Karno) Eh No, inget ya No. Kita ini di sini mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi. Memang kita bukan orang-orang penggede yang selalu menggembor-gemborkan keprihatinan mereka pada masyarakat kecil seperti kita. Paling tidak kita ini sangat berjasa bagi kota dan masyarakan di sini, coba bayangkan andaikata kita tidak ada pasti sampah-sampah plastik ini akan menimbun Jakarta. Walaupun kita tidak punya apa-apa paling tidak kita bisa sombong sedikit, tidak seperti mereka yang hanya bisa menyombongkan kekayaan mereka tanpa peduli dengan nasib rakyat. Betul nda…! (menepuk pundak Karno)

Karno  : Eh kamu ini kesurupan setan mana sih. (memegang kepala Joni dan pantat sendiri) Hmmm…., pantes sama.

Joni      : (menepuk kepala karno) huh dasar otak penuh sampah.

Karno  : Tapi betul juga kata mu Jon…, kita memang pantas sombong (berlagak seperti sincan) karna kita adalah pahlawan lingkungan hidup ha….ha…ha….ha….

Joni      : Yo a (berdiri dan menirukan gaya Karno) Kita adalah pahlawan lingkungan ha…ha…ha…

Karno  : (kembali duduk) eit…eit…eit… cukup sudah jangan diteruskan nanti malah dikira kita sudah gila. (mengambil sampah yang berserakan) Duh sampah-sampah ko nda habis-habis ya…?

Joni      : (menunjuk sebuah koran kucel) Eh No tolong ambilkan Koran disebelahmu itu.

Karno  : Ini maksudmu (mengambil koran yang disebelahnya)

Joni      : Sip…, cerdas.

Karno  : Buat apa koran itu Jon?

Joni      : Eh No biar kita orang miskin kita jangan ketinggalan informasi, tahu nda disini itu gudangnya informasi walaupun sudah kadaluarsa tapi kan masih bisa diambil ilmu-ilmunya, ya.... siapa tahu dibuang oleh para pejabat-pejabat itu. Missal, sekarang ilmu kemanusiaan, kepedulian, kejujuran, keterbuakan, dan moral agama kan sudah pada dibuang-buang.

Karno  : maksud loo…h (sambil menjentikan jari)

Joni      : Ya daripada ilmu itu dibuang-buang mending kita manfaatkan dan kita ajarkan pada anak cucu kit kelak betul nda?

Karno  : Oo….

Joni      : (merebut koran) mana sini. (membuka-buka lembaran koran) pembunuhan di mangga dua masih menjadi pertanyaan. Seorang anak dibawah umur dicabuli oleh ayahnya sendiri. Dih…idih amit-amit jabang bayi anak sendiri diembat juga. Pasti burung sang ayah itu belum pernah sekolah ya…, (membuka lembaran koran lagi) sekandal sex para pejabat legislative. Wah ini baru berita yang asyik aku paling suka masalah sex esex. He…he…

Karno  ; Mana? Mana, mana yang esex-esex ditampilkan nda? coba lihat.

Joni      : (menepuk kepala Karno) huh dasar otak mesum ingat ya No kita (berdiri bersama dan bergaya pahlawan bertopeng sincan) kita adalah pahlawan lingkungan ha…ha…ha…

Karno  : Lah ini baru seru, sekandal sex Jon…, wah…wah… pejabat lagi. Sama artis Jon waduh berat nih, berat-berat ko sampai gitu yah (berdecak heran)

Joni      : Wajar No, namanya manusia ya… seperti itu, kadang baik dan juga kadang buruk. Siapa tahu si pejabat itu kena pelet ajian jaran goyang,   siapa yang nda takluk sama goyangannya dan apalagi itu goyangan artis, yu….k! seorang pejabat legislative kan orang yang pilihan, nda sembarangan, dia juga kan yang milih rakyat dan dia juga mengemban tugas dari rakyatnya jadi dia itu orangnya bener-bener pilihan No.

Karno  : Lah kok mau kaya gituan…, coba bayangin seorang pilihan melakukan hal sedemikian rupa sehingga oleh karena itu maka dari itu akibatnya menjadi montang bin manting coba bayangkan Jon…

Joni      : sekarang coba kamu amati ikan asin ini akan dimakan tuh kucing apa nda (meletakan sepotong ikan asin didekat Karno) Perhatikan baik-baik (mereka pun mengamati kucing yang sedari tadi mondar-mandir di tempat pengumpulan sampah)

Kucing   : (berjalan mngendus-endus dan mendekati potongan ikan asin) meyoong….meyoo..oo..oong, mo…nyoo…ng, eh salah penonton. Meyoo…ng, meyoong nyoloo…ng, eh ini mulut sembarangan menyalahi kodratnya…, meyoo…ng. haem nyam…nyam… serasa pitza…hut coy…(pergi meninggalkan panggung)

Joni      : Tuh kan dimakan…., namanya kucing kalo ada ikan asin pasti dia akan mendekat dan memakannya dengan lahap. Apalagi kalau itu kucingnya berkepala hitam melihat artis yang mungil dan elok pasti dia akan mengendus-endusnya.

Karno  : Iya… ya…

Joni      : Betul kan siapapun orangnya pasti akan melakukan hal yang sama kalo ikan asinnya itu menggoda selera. Udah lah ayo sudah agak sore nih bentar lagi truk sampah akan datang dengan mengirimkan rezeki berlimpah pada kita. Saatnya kita berjuang…., semangat…semangat…(meninggalkan rumah kecil tersebut)


 

Bagian 2

 

Hari sudah malam, namun suasana kompleks rumah gardus itu masih terlihat sangat rame, banyak orang yang berlalu-lalang kesana kemari. Layaknya sebuah kota kecil ditengah ramainya Jakarta. Karno kembali berkunjung ke rumah gerdus milik Joni.

Karno  : Jon…Jon, ada dirumah nda?(mengetuk pintu)

Joni      : Iya sebentar tanggung nih sebentar lagi keluar.

Karno  : (Mondar-mandir didepan pintu)

PSK     : (keluar seorang wanita dan disusul oleh Joni) Mmm… mas besok lagi ya…,

Joni      : Iya sayang, yang penting goyanganmu hanya untuk aku muah…

PSK     : Tapi mas ….?

Joni      : Apa…., oo…., itu (menarik PSK menjauhi Karno) eh kamu jangan seperti itu dong, kita kan suka sama suka betul nda

PSK     : Iya, tapi…

Joni      : Dah deh kapan-kapan aku bayar sekarang ngebon dulu ya… sayang

PSK     : (manja) mm…, tuh kan ngebon lagi emang ini barang milik Negara apa-apa selalu gratis, pejabat itu aja selalu pake uang ko buat mboking. Hu… sebel…sebel…(pergi meninggalkan Joni)

Joni      : (tersenyum sambil garuk-garuk kepala) he…he…(mendekati Karno yang sedari tadi melongo). Biasa No service plus-plus.

Karno  : (berdecak) ck…ck…, Joni-joni sudah miskin tapi masih juga. Memang kamu ini pejabat apa?

Joni      : (Menarik Karno) Sssstsss, jangan keras-keras kamu tahu sendiri lah aku kan sendirian disini aku perlu penyaluran biologis. Wajar kan, kucing…kucing… kucing hitam inget nda?

Kucing   : (berjalan melintasi Joni) Meyoong…, enak aja biar gini gue punya moral coy Huh

Karno  : alah sudah lah kamu ini sama seperti pejabat itu, mending pejabat itu bisa bayar, nah kamu dari dulu ngebon terus.

Joni      : Sssts, iya iya aku tahu. Sorry kalo kegemarannku dari dulu belum bisa hilang. Eh ngomong-omong kamu datang malem-malem ada apa? Apa istri kamu mau melahirkan?

Karno  : Nda…, tadinya aku mau mengatakan hal yang penting tapi nda jadi lah, aku mau pulang kamu masih bau (pergi meninggalkan Joni)

Joni      : Loo… ko pulang (melongo)

Waria   : (melintas)Mas Joni…, malem-malem gini kok ngelamun. Perlu temen nda? Biasa mas sedoo….t

Joni      : (marah) apa kamu Tince bin markonah Joko Blegug.

Waria   : Idih-idih jangan marah mas Joni Markoni

Joni      : e..e…e…, ngeledek ya tak kempesi balonmu

Waria   : (berlari) au…au… jangan….

Joni      : Sial-sial , sudah si Maria pergi eh malah digodain Tince. Ini semua gara-gara Karno awas No nanti aku aduin sama istrimu itu, dulu kamu juga seperti itu.

Kucing   : (melintas) Meyong…meyoong, Joni monyoo…ng

Joni      : (melempar kucing dengan sandal) dasar kucing gering usil saja

Kucing   : (berlari) watau….h

Joni      : (Duduk desebuah kursi reot kemudian menyalakan sebatang rokok). Karno…, Karno…, apa gerangan yang ingin kau sampaikan kepadaku. Aku sudah lama mengenalmu dan kau pun sudah mengenalku dari luar sampai dalam tapi kali ini kamu beda. Kamu kelihatan lebih serius ada apa gerangan kiranya. (melamun sambil merokok)

PSK     : (berlari-lari) wah gawat-gawat, mas Jon,mas Jon tolongin Maria dong ada Trantib aku harus sembunyi

Joni      : (ikut panik) e sembunyi didalam saja. Eh jangan disini eh jangan disana eh jangan nanti ketahuan ya disini-disini saja di dalam tong sampah ini

PSK     : Tapi-tapi masa, Maria ditaruh di sampah sih

Joni      : Udah nda sah banyak pertimbangan, kamu kaum kotor kan. Mending kamu disini aja pasti sama, jadi nda bakal kelihatan.

PSK     : Iya deh, kalo ini berhasil nanti mas Jon boleh minta apa aja sama Maria

Joni      : udah cepet sembunyi…(kembali duduk)

Trantib : (terengah-engah) Bang..bang lihat cewek lari kesini

Joni      : Nape pak? Penertiban lagi? Apa nda bosen tangkap lepas-tangkap lepas terus. Harusnya setelah ditangkap kasih kerjaan dong jangan hanya dikasih pengarahan, nda mempan pak

Trantib : iya tapi larinya kemana?

Joni      : eh Pak kalo mau menertibkan itu orang-orang yang ada di gedung-gedung megah itu, mereka pakai seragam tapi nda tahu kemana tempat ia bekerja. Tiap malam keluyuran cari bokingan. Apa nda malu sama yang memilih mereka

Trantib: (kesal) alah udah, banyak omong orang kecil (pergi berlari)

Joni      : (berteriak-teriak)Dasar tukang  garuk, garuk tuh para pejabat yang nda tertib jangan orang kecil yang tidak tahu apa-apa. Ingat pak orang kecil tidak bisa tertib karena pemimpinnya tidak bisa ngasih contoh, mereka hanya bisa ngomong tanpa realitas yang jelas.

PSK     : (mengintip dari balik tong sampah) Mas…mas Jon, sudah aman

Joni      : Sudah Maria

PSK     : Tolongin keluar dari tempat sampah ini dong

Joni      : Ok. Dah sayang

PSK     : Terimakasih mas Joni yang baik…

Joni      : Alah langsung aja pada intinya, tadi kamu ngomong apa sama saya

PSK     : Iya mas boleh minta apa aja ama Maria

Joni      : he…he…, gimana penonton? He…he…, badan mas pegel-pegel nih. Biasa dah service.

PSK     : Trus bayaran…

Joni      : (memotong ) lah kan katanya terserah mas Jon, nda sah pake bon jadi malam ini itu barang milik negara dan milik umum jadi boleh dimanfaatkan oleh semua orang. Ok!

PSK     : Maksudnya gratis gitu

Joni      : Betu….l

PSK     : Ya sudahlah itung-itung mbayar hutang budi. Sekarang mas?

Joni      : Ya sekarang, tapi mandi dulu kamu bau sampah

PSK     : iya deh…(pergi ke kamar mandi)

Joni      : Ha…ha…, gratis malam ini, untung dah …. ni nasib. Biar miskin asal happy, aku juga bisa seperti para penggede itu, memangnya mereka yang bisa punya fasilitas, aku juga punya dan itu adalah fasilitas yang  eeng….., pokoknya sip…sip…., Sayang sudah nda tahan nih ayo dong…

PSK     : Iya mas bentar, nda sabar amat sih…

Joni      : Ayo…, jangan lama-lama keburu basi nih…

PSK     : Ok mas I am ready lets go to the jungle (mereka pun masuk ke rumah kardus itu)

 

 

Bagian 3

 

Sementara itu disebuah rumah yang agak lebih baik dari rumah Joni terjadi perdebatan yang sangat panas. Semua orang mengeluarkan pendapatnya dan selalu ingin memenangkan pendapatnya walaupun akhirnya mereka menemukan kesepakatan bersama.

Tetua   : Saudara-saudara akhirnya kita semua telah sepakat bahwa kita harus segera meninggalkan kawasan ini, yang jadi permasalahan kita sekarang ini adalah akan kemana kita nantinya di pindahkan. Ingat saudara-saudara kita disini jangan terlalu banyak menuntut pada pemerintah karena kedatangan kita sendiri tidaklah untuk menetap dan tinggal di tanah pemerintah disini kita hanya menumpang untuk hidup. Betul saudara…

Orang2   : sejutu…., setubuh…., eh setuju…. Salah blek, betu….llll

Tetua   : Sekarang lebih baik kita kumpulkan dana untuk perjalannan pindah lokasi kita nanti ok!

Orang2   : Ok….e…

Karno  : (semua orang keluar dari ruangan) aku harus segera memberi tahu si Joni. (pergi menuju ke rumah Joni)

Joni      : (sedang mengumpulkan sampah) Eh No panjang umur kau, bagaimana kabarnya? Sorry semalam aku mengecewakanmu.

Karno  : Udah itu nda jadi soal buat saya, sekarang yang lebih gawat areal ini akan segera dipindahkan Jon.

Joni      : (membuang rokoknya dan meludah) Apa? Mau dipindahkan?

Karno : Iya jon…, gimana Jon

Joni      : Brengsek itu para peenggede. Eh kamu tahu nda mau buat apa TPA ini?

Karno  : Buat Real estate kata tetua kampung ini

Joni      : Enak sekali orang-orang itu, semakin ngelunjak saja. Memang sebagian besar orang-orang disini numpang semua tapi apa nda memikirkan orang-orang yang sudah memiliki hak tanahnya disini sejak dulu. Walaupun aku hanya punya rumah gardus tapi aku punya tanah disini No. Tempat berdirinya rumahmu itu dan juga milik pak Rt itu sebagian milikku semuanya ada surat-suratnya. Saya harus menemui pak Rt(mereka berdua pergi kerumah pak Rt)

Karno  : (mengetuk pintu) Assalamualaikum pak Rt…

Rt        : Waalaikum salam siapa yah (keluar dari rumahnya)

Karno  : Saya Karno pak sama Joni

Rt        : Oh nak Karno, nak Joni silakan duduk

Joni      : Nda usah pak Rt

Rt        : Iya nak Joni  saya tahu masalah nak Joni dan semua masyarakat kampung sini.

Joni      : Iya pak Rt, harusnya jangan sepihak dong menentukan. Bolehlah TPA disebelah sana dijadikan tempat yang lain tapi jangan sampai menggusur tanah milik warga dong. Ingat pak Rt sebagian tanah pak Rt adalah milik saya.

Rt        : tenang nak Joni, semuanya sudah dirembug dengan kontraktor dan semua sudah deal dan untuk pengganti tanah yang kena gusur kami rasa sudah layak.

Joni      : Alah pak Rt nda usah ngomong seperti itu, pokoknya saya tidak mau pindah dari kampung aku dibesarkan. Walaupun aku pendatang tapi aku sudah punya hak disini. (menepuk kepala Karno) heh kamu Bantu saya dong jangan melongo.

Karno  : (kaget) I..iya pak Rt kita semua harus segera pindah…

Joni      : (menepuk kepala Karno) Dasar. Pokoknya saya nda mau pindah titik. (pergi meninggalkan pak Rt dan menuju rumah Joni)

Karno  : Sudahlah Jon relakan saja tanahmu diganti dan lagi aku rasa itu layak sebagai pengganti.

Joni      : iya… No memang itu layak, tapi kamu lihat orang-orang itu (menunjuk penonton) mereka sama seperti ku seperti kamu hanya seorang pemulung No. kalau daerah ini diratakan kemana mereka akan bertempat tinggal? Sudah lama aku relakan tanahku mereka tempati dan aku rela seperti mereka hanya membangun sebuah rumah gardus. Karena aku rasa itu adalah istana yang paling indah. Aku sudah muak dengan semua kemegahan, karena itu hanya sebuah kebohongan semata. Aku lebih memilih tinggal dirumah gardus karena aku lebh merasakan yang namanya hidup, walaupun kadang aku menyalahi aturan tapi itulah dunia kehidupan.

Karno  : Iya aku mengerti

Joni      : tidak No tidak kau tidak akan mengerti. Bagaimana menderitanya seorang yang tinggal dirumah kardus. Selama ini kau tempati rumahku itu bukan, karena aku tidak mau kau menderita di rumah kecil ini No. kau bisa menikmati fasilitas yang ada sedangkan mereka yang ada dirumah gardus, tidak ada No…tidak ada…

Karno  : Maafkan aku jon, tapi…

Joni      : Nda No, pokoknya akan ku pertahankan tanahku ini. Jangan pernah mengambil hak milk rakyat kecil. Rakyat kecil sudah tertindas dari dulu jangan lagi ditambahi beban penderitaan mereka. Mereka sudah menderita menanggung beban hidup mereka sendiri biarkanlah mereka hidup No.

Kucing   : (melintas) meyoong…meyoong…, nasib-nasib harus pidah nih, gua mau ngungsi ke luar negeri aja dah. Pesawat  nanti sore berangkat jam berapa ya. Oh ya lupa ikan asinnya belum aku bungkus. Meyoong.

Joni      : lihatlah kucing kurus itu No, apa kau tidak kasihan dia mencoba bertahan hidup seperti kita. Tapi apa jadinya bila lahan untuk makan kau hancurkan, dia pasti mati No.

Karno  : Baiklah kalau itu memang pilihanmu pertahankanlah hakmu aku hanya bisa memberimu doa dan kau selamat sehingga bisa berkumpul kembali. Aku akan pamitan pulang ke kampung di Jawa. Semua yang pernah aku pinjam aku kembalikan padamu, aku sangat berterimakasih atas semua pertolongan yang telah kau berikan kepadaku. Tapi aku mohon  kau ikut bersamaku aja ke Jawa Jon. Kita hidup disana Jon.

Joni      : Trimakasih No, aku tak bisa meninggalkan apa yang telah kuraih bersama orang tua ku dahulu. Akan kupertahankan walaupun itu harus pertaruhkan semua dayaku.

Karno  : kalau memang itu pilihanmu ya sudah aku pamit sekarang Jon.

Joni      : (memeluk Karno) selamat jalan No jangan pernah lupakan persahabatan kita dan jangan pernah kau remehkan rakyat kecil No.

Karno pun meninggalkan Joni sendiri dirumah gerdusnya.

 

 

Bagian 4

 

Matahari pagi pun menyinari areal TPA dimana rumah kerdus Joni berdiri. Terlihat beberapa rombongan Trantib berjalan dengan membawa pentungan. Joni beserta rekan-rekan sepenanggungannya pun telah membuat pagar betis dan siap menghalau datangnya Trantib untuk menggusur lahannya.

Komandan   : Selamat pagi saudara-saudara sekalian, pada hari ini kami akan memberitahukan bahwa demi ketertiban dan kenyamanan bersama berdasarkan ketetapan perda no XXX/02C/XI/DKI/2006 menyatakan bahwa areal ini untuk sgera dikosongkan. Bagi warga yang terkena gusur tanahnnya ada dana pengganti dan itu sudah dirembug dengan warga sekitar sini. Mohon saudara-saudara minggir untuk memberikan waktu kepada petugas untuk menyelesaikan tugasnya. Terimakasih

Joni               : Hei…., pak Komandan anda jangan mau jadi antek-anteknya para penggede itu Ndan. Kami tahu bapak hanya menjalankan tugas, tapi apa bapak tahu nasib kami nantinya dan apakah pengganti ini sepadan dengan apa yang telah bapak rebut. Dimanakah hati nurani bapak sekalian…

Komandan   : Petugas laksanakan eksekusi

Petugas         : Siia….p Komandan.

Joni               : He…he… pak, tunggu dulu. Hargai rakyat kecil, kami menghormati bapak tapi bapak juga harus menghormati kami. Pak. (maju ke depan dan berorasi). “ Saudara-saudara hari ini ada sekelompok manusia-manusia berseragam yang datang dan akan segera merebut hak kita di tanah kelahiran kita sendiri bukankah itu wajar saudara….”

Warga           : Ya…. Wajaa…r

Joni               : Wajar….? Wajar bagaimana menurut saudara?

Warga           : Wajar karena mereka telah disumpal mulut, telinga dan matanya dengan dana rakyat sendiri ….

Joni               : Hei… kau jangan memfitnah, mereka itu adalah teman kita juga. Jangan saling menindas dong betul pak Komandan, betul pak petugas?

Petugas         : Betu….llll.

Komandan   : Ss….ts diam.

Joni               : Lo kok diam? Saudara-saudara sekalian, dihati kecil mereka terbersit kata suci . hati mereka telah diingkari , ya hati dan perasaan mereka telah mati. Apakah para penguasa itu telah buta, siapa yang telah memilih mereka, siapa yang telah menggaji mereka, siapa yang telah menjadikan mereka kaya. Tapi apa balasannya pada kita semua saudara. Rakyat semakin ditindas. Masyarakat dijadikan kelinci percobaan demi kekayaan mereka. Apa itu pantas saudara?

Warga           : Pantas…..

Joni               : Looo ko pantas?

Warga           : Ya pantas mereka kan sudah lupa akan tugasnya, mereka lebih memperhatikan para orang yang berduit, ada duit semua di ACC. Kalau nda ada duit tunggu dulu. Betull teman…teman…., betu…..llll.

Joni               : Tragis..., tragis beginikah penggede di jaman sekarang ini. Tuhan semoga mereka mendapat ampunan dari Tuhan yang maha Esa dan kita semua diberi kekuatan.Amin

Warga           : Ami….n

Komandan   : Petugas laksanakan….!

Petugas akhirnya melaksanakan eksekusi pembebasan tanah, semua kelihatan ramai dan terjadi aksi dorong mendorong antara warga dan petugas. Suasana menjadi tegang, korban pun  mulai berjatuhan baik dari pihak warga maupun pihak petugas. Semuanya berlalu begitu saja. Rumah gerdus itu pun kini telah rata dengan tanah. Beberaa orang ditangkap oleh petugas karena disinyalir sebagai provokator. Terlihat disana Joni telah terborgol oleh petugas dan dibawa oleh petugas dengan kendaraan. Semua tampak lengang gerdus-gerdus itu kini menumpuk menjadi satu dan tak ada lagi gerdus-gerdus yang menyerupai pondok tapi semua kembali seperti tumpukan sampah yang menggunung dan berserakan dimana-mana.

 

by agus

 

Wed, 4 Aug 2010 @19:05


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 agoes · All Rights Reserved